Perjalanan Menuju Surga Ranu Kumbolo
Bagikan ke

Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang terletak di dalam Taman Nasional Bromo Tangger Semeru, Jawa Timur, Indonesia. Danau ini berada  di ketinggian mencapai 2.389 MDPL. Bagi kalangan penggiat alam bebas atau pencinta alam nama Ranu Kumbolo tentu tidaklah asing bagi telinga mereka.

Setelah menyaksikan film 5 CM dan melihat foto-foto di Instragram yang begitu membuat saya terpesona hingga akhirnya merasa penasaran dengan Danau yang dujuluki Surga Gunung Semeru tersebut.

Pada tanggal 15 Juli 2019 saya dan Endy teman saya yang juga suka Traveling, kami dari Jogja menuju kota Malang dengan kereta api super ekonomi. Perjalanan yang amat  memakan waktu hingga 8 Jam itu membuat kami bosan. Dan hingga akhirnya saya dan Endy tiba di kota malang.

Kilas cerita kami mendaftarkan diri secara online dengan mengisi formulir pendakian Gunung Semeru dan juga surat keterangan sehat, yah surat tersebut sangat penting. Karena tanpa surat tersebut kita tidak dapat masuk dalam kawasan Gunung Semeru.

Dari kota malang ke arah timur kami menuju kawasan Bromo Tangger Semeru dengan menikmati hutan yang lebat, sejuknya angin dan hamparan pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi yang setia menemani hingga kami sampai pada bascamp pendakian Gunung Semeru.

Tepat pukul 13:00 WIB kami sampai dan hal hasil pengurus penjaga pendakian Gunung Semeru sedang beristirahat, dan membuat kami menunggu jam istirahatnya berakhir. Saya sangat kaget dengan banyaknya orang yang hendak akan mendaki gunung tersebut. Karena jumlah mereka banyak sekali, namun apa boleh buat karena Gunung Semeru dikenal dengan puncak tertinggi di pulau jawa.

Kami memulai pendakian pukul 15:15 WIB, perjalanan kami dari bascamp hingga pos 1 sekitar 30 menit, dengan tanjakan yang biasa-biasa saja. Sampai di Pos 2 sekitar 15 menit, kami terus saja berjalan karena jalurnya kebanyakan datar, di pos 3 sekitar 50 menit, perjalanannya lama karena kami harus berhenti dan berfoto-foto. Hingga akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo pukul 17:00 WIB.

Sorennya kami merakit tenda dengan pintu ke arah danau dan menikmati secangkir kopi sembari menunggu matahari terbenam, hingga akhirnya malam tiba.

Hari telah gelap. Bintang bertaburan di langit malam. Dan saya pun mengutak-ngatik kamera untuk mengambil foto Milky Way. Sedangkan Endy sendiri asik menyeruput secangkir kopi hangat sambil menikmati suasana yang syadu dengan lagu indie.

Suhu di Ranu Kumbolo mencapai 3 derajat celcius, saking dinginnya perut ini mulai keroncongan. Saya dan Endy kemudian masuk ke dalam tenda dan menyiapkan makan malam. Mie rebus ditambah sosis goring menjadi menu andalan kami malam itu.

Tepat pukul 05:00, saya dan Endy dibangunkan oleh musik alarm yang telah saya stel sebelum tidur. Karena sudah tak sabar untuk menyaksikan Golden Sunrise di timur langit Ranu Kumbolo, saya pun bangkit membuka pintu tenda.

Seketika udara dingin menyerbu masuk kedalam tenda, namun tetap saya berusaha keras  mengurangi rasa dingin. Saya mengambil kompor dan merebus air untuk membuat kopi agar badan tetap hangat.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu sedari tadi tiba. Dari arah timur, tiba sang surya sedikit demi sedikit menampakan pesonanya. Pancaran cahaya emasnya perlahan-lahan merambat ke setiap sudut kawasan Ranu Kumbolo.

Di atas permukaan danau, terlukis sekumpulan kabut lembut tipis yang bergerak mengikuti launan angin.

Sungguh ini sebuah pemandangan alam yang mengagumkan. Saking kagumnya, mata ini tak ingin berkedip sekali pun.

Penulis – Agustinus I. M. Ola

Editor – Radixa Meta Utami

News Reporter
Suka Memotret

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *