MEMBONCENG POCONG
Bagikan ke

Sinungnews – Pada suatu hari di bawah langit yang biru, terlihat seorang anak gadis sedang bermain sepeda. Gadis itu bernama Karina. Ia bersepeda di pinggir pohon beringin, kadang kala ia bermain hingga sore  pun berlalu. Keesokan harinya,  Karina hendak ke sekolah, dalam perjalanannya ia melihat sebatang pohon beringin tua. Tanpa sengaja Karina mengejek pohon beringin itu dengan membuang sampah dan sisa makanannya dari sekolah.

Sore pun tiba, Karina bersepeda keliling pohon beringin itu bersama dengan teman-temannya, tak lama kemudian Karina melewati jembatan bersama dengan teman-temannya. Tiba-tiba Karina merasa berat saat melewati jembatan itu. Sepeda Karina berat seperti ada yang diboncengnya,  tapi Karina hanya mengira itu hanya halusinasi dia saja atau karena ban sepedanya yang kempes.

Ia pun terus melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan sambil megayu sepedanya,   Karina merasakan sepedanya semakin lambat bergerak. Namun, Karina tetap melanjutkan mengayuh sepedanya. Hinggaia pun  tiba di pohon  beringin  yang pernah dipakainya untuk melempar sampah. Tiba-tiba ada suara sttttttt… seperti bunyi sesuatu yang terbang dari boncengan belakang dan Brokkkk!!!! Karina terjatuh dari sepedanya akibat gerakan yang menggesek bagian belakangnya seperti sesuatu benda sedang terbang dan meloncat  dari belakangnya yang  membuat ia kaget.

          Tiba-tiba dilihatnya sehelai kain berwarna putih di balik pohon beringin tua itu. Dan ternyata, “ byuuuuaaaarrrr” keluarlah seorang nenek dari balik pohon beringin itu,  sang nenek pun segera bergegas menolong Karina.

“Nek … nek mau kemana? “ tanya Karina.

“Saya ingin pulang” jawab nenek itu.

           Dan Karina menawarkan diri untuk mengantar nenek itu sebagai imbalan atas pertolongan yang sudah diberikan kepada Karina. “Nek … rumah nenek dimana? Tanya Karina. “Rumah nenek  di pinggir jalan Manggis”.

           Karina dan nenek pun berangkat. Dalam perjalanan banyak orang keheranan dan ketakutan ketakutan karena mereka melihat Karina berbicara dan tertawa seolah-olah orang gila.  Tanpa di sadarinya, ia terus mendayung sepeda dengan senyum kebahagian bias mengantar nenek itu.Tak lama kemudian mereka pun tiba di rumah nenek.

“Nek .. mana rumah nenek?. Sang nenek menunjuk ke arah pohon beringin tempat semula mereka berangkat.  Karina sangat terkejut sambil berteriak “haaaaaa…rumah nenek di pohon beringin itu? Sambil melihat ke arah nenek dan ia pun kaget dan tidak bias  berkata apa-apa. Karena ketika ia berbalik, matanya tiba-tiba saja memelak sang nenek sudah menghilang dan sehelai kain putih ituj atuh tepat dibawah kakinya. Kini  Karina menyadiri bahwa yang diboncengnya itu adalah pocong. Dan Karina mulai mengerti bahwa sepanjang perjalanan ketika orang-orang keheranan melihatnya berbicara sendiri.

           Karena  merasa trauma dan sangat ketakutan sampai hamper tidak sadarkan diri. Karina berusaha berlari sekencang mungkin tanpa sepeda ke rumahnya untuk menceritakan kepada kedua orangnya akan kejadian misterius yang dialaminya sepanjang siang tadi.  Semenjak kejadianitu, semua warga di desanya Karina meyakini bahwa masih ada kehidupan orang meninggal yang berada disekitar mereka. Hingga sampai sekarang, pohon beringin itu menjadi tempat keramat.

Penulis – Stefani B. Haban

Penyunting – Agustinus I. M. Ola

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *