Memoar
Bagikan ke

Sinungnews – Siang itu begitu terik, siapa pun yang enggan untuk keluar karena panas terik matahari. Namun berbeda dengan beberapa anak kecil tengah bermain di tanah lapang, mereka bermain tanpa peduli dengan panas matahari. Tawa nyaring dari bibir kecil mereka mengusik perhatian seorang gadis mengenakan kemeja putih kedodoran panjangnya sampai di lututnya, ransel hitam bertengger manis di punggungnya, dan baseball cap di pucuk kepalanya. Gadis itu lantas menghentikan langkahnya, sudut bibirnya tertarik ke atas melihat anak-anak itu. Ia menghempaskan tubuhnya ke tanah, tanpa peduli debu-debu itu akan mengotori pakaiannya.

Ditopang dagunya sembari tersenyum memandang ke tanah lapang. Dihembuskan napasnya pelan.

“Ah! Aku jadi rindu masa kecilku,” gumamnya kecil, matanya dengan jeli memperhatikan anak-anak lelaki itu berlarian ke sana ke mari mengerjar bola sesekali tertawa.

Gadis itu ikut tergelak ketika melihat salah satu bocah itu terjatuh karena ingin menendang benda bulat itu, bolanya tidak menggelinding karena tendangannya malah anak itu yang terjatuh karena bola. Matanya terus mengamati gerak-gerik anak-anak itu. Namun, pikirannya menerawang jauh ke tempat antah-berantah bersama ingatan masa kecilnya.

***_____***

Gadis kecil berumur tujuh tahun itu tertawa bersama anak-anak sebayanya dan yang lebih muda dari gadis itu. Gelak tawa tersebut menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar mereka, walaupun suasana saat itu ada dalam keadaan duka. Orang-orang di situ paham jika anak-anak tidak terlalu memahami situasi tersebut. Mereka bermain tanpa peduli bahwa di sekitar rumah tersebut sedang ramai.

Gadis kecil bermata sipit layaknya keturunan Chinese dan rambut hitam legam──menjadi ciri khas anak kecil itu── bernama Diya Ardelia. Terus mengejar teman-temannya dan gelak tawa terus keluar dari mulutnya, begitu pula dengan teman-temannya. Keceriaan yang dibuatnya mengundang senyuman dari orang dewasa yang ada di sekitarnya. Diya tidak terlihat lelah sama sekali, walaupun sudah mengerjar teman-temannya.

Diya bergelantungan di sebuah tiang dengan gelak tawanya yang entah apa faedahnya ia melakukan hal tersebut. Tanpa tahu jika di bawahnya adalah sebuah tembok kasar bukan tanah.

Bunyi benturan tembok terdengar dari arah Diya, semua orang yang ada di sana langsung menoleh ke arahnya bahkan teman-temannya terdiam mendengar bunyi benturan itu. Mama Diya yang kebetulan ada di sana langsung berlari ke arah Diya, wajah panik tergambar di wajah mamanya.

“Nak, kau tidak apa-apa?” Diya hanya mengangguk kecil mendengar pertanyaan bernada panik dari ibunya. Sebuah seruan terdengar dari teman Diya.

“Tante Ibu! Lihat ada darah.” seketika mamanya melihat ke bawah dan terdapat darah di bawah sana. Semua orang langsung panik dan di bagian kepala Diya semakin banyak bercak darah.

Diya menatap polos mamanya yang menangis sambil terus merengkuh tubuh kecil Diya dalam gendongannya. Ia menangisi Diya yang terluka, mamanya sangat panik dan orang lain ikut terpengaruh. Sampai akhirnya kakak sepupu Diya datang membawa alkohol untuk membersihkan lukanya.

“Tante Ibu, kita bersihkan lukanya Diya dulu. Kalau Om udah datang nanti Diya dibawa ke rumah sakit.” mamanya hanya mengangguk mengerti sambil terus menangis.

“Diya kita bersihin dulu yah lukanya?” Diya kecil hanya mengangguk kecil, kepalanya ditenggerkan di bahu mamanya.

“Diya sakit nggak?” Diya menggeleng pelan ia tidak merasakan sakit sama sekali, walaupun alkohol telah membasuh lukanya, sampai lukanya selesai dibersihkan ia tidak merasakan rasa sakit.

“Papamu di mana lagi?” mamanya mengomel karena orang yang dicarinya tidak kunjung datang.

Tidak lama kemudian sosok yang dicari mamanya Diya datang, lelaki yang tidak lain adalah papanya Diya dengan santainya berkata.

“Sisa gali saja satu lagi liang kubur di samping makamnya Mama tua.”

Mendengar perkataan papa Diya, mamanya mendelik tajam. Papa Diya tipe orang yang berbicara semaunya tanpa pikir panjang efeknya terhadap orang lain, bisa dikatakan papanya Diya itu ceplas-ceplos.

“Bicaramu itu sembarang sekali! Kalau memang tidak mau antar anakmu ke rumah sakit, nanti saya yang antar!”

Papa dan mama Diya berdebat kecil, Diya hanya menatap polos kedua orang tuanya karena tidak mengerti dengan perdebatan itu. Pada akhirnya sang ayah yang mengantar ke rumah sakit. Diperjalanan ayah bertanya kenapa bisa mendapatkan luka itu dengan polosnya ia menceritakan kronologi kejadiannya. Sang ayah hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah anak bungsunya.

Selama di operasi ia tidak merasakan apapun. Ia hanya berkata geli ketika jarum menembus kulit kepalanya. Sedangkan ayahnya dan beberapa orang yang ada di sana meringis ngeri dan ngilu melihat kegiatan tersebut. Diya tertawa kecil melihat ekspresi wajah sang papa karena ngilu.

“Ih! Papa malu-maluin. Papa penakut deh.”

Diya tidak takut ketika jarum terus merajut benang di kepalanya bahkan dokter yang menanganinya ikut takjub dengan kelakuannya. Ia bahkan tidak menangis ketika ia terjatuh dan mendapat operasi kecil.

Diya seorang yang berani, disaat yang lain khawatir dan menangis melihat dia terluka dengan polosnya tersenyum seolah-olah berkata jika ia baik-baik saja. Diya sosok kecil yang tidak takut dan menangis saat ia terluka parah sekali pun.

***_____***

“Hoi kak! Ngapain di situ?” Diya memerjamkan matanya perlahan, saking sibuknya ia mengingat kenangan masa kecilnya yang paling membekas di ingatannya. Ia bahkan tidak sadar jika salah satu dari rombongan anak kecil itu berlari ke arahnya, hingga bocah kecil berwajah manis itu berdiri di hadapannya. Diya menunjuk ke dirinya untuk memastikan jika ia yang disapa anak kecil itu dibalas anggukan dari adik kecil itu.

“Aku hanya melihat kalian bermain sepak bola.” Diya tersenyum kecil.

Anak kecil itu mengangguk-angguk. “Kakak mau ikut bermain bersama kami? Daripada kakak di situ menonton kami saja, mending kakak ikut bermain.”

Diya tersenyum lebar sebelum akhirnya ia ikut bersama bocah itu bermain bola. Ia melupakan soal umurnya sekarang, yang penting ia bisa tertawa lepas layaknya saat ia berumur tujuh tahun bersama anak-anak kecil itu.

Salah satu memori kecilnya yang tidak bisa ia lupakan. Kenangan yang selalu membuatnya tersenyum mengingat bagaimana polosnya dia, tidak penakut, bahkan tidak menangis disaat ia jatuh dan terluka sekalipun. Ingin rasanya ia kembali merasakan masa kecilnya yang menyenangkan, tapi ia tidak bisa. Biarkanlah itu menjadi salah satu kenangan terindah yang tidak akan ia lupakan.

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *