Joker: Melihat dari Kacamata Mental Illness
Bagikan ke

Judul : Joker

Durasi : 122 menit

Pemain : Joaquin Phoenix, Robert De Niro, Zazie Beetz, Frances Conroy, dll.

Genre : Crime, drama, thriller

Rumah Produksi : Warner Bros.

Rating IMDb: 8.7/10

Sinung News-Film Joker bercerita tentang seseorang bernama Arthur Fleck yang tumbuh besar di Gotham city dengan segala macam permasalahan yang dialami si tokoh. Tahun 1981 menjadi latar waktu dalam film, yang terjadi berpuluh-puluh tahun sebelum Joker menjadi musuh bebuyutan dari Batman.

Film berkisah tentang sosok Arthur sebagai sosok komedian dan badut yang gagal serta mengalami mental illness. Arthur tumbuh dari kalangan bawah yang gagal meraih kesuksesan sebagai komedian stand up. Dia juga diabaikan oleh masyarakat yang ada di sekitarnya.

Ia harus berhenti menjadi badut karena tidak sengaja menjatuhkan senapan saat mengisi acara di rumah sakit bagian departemen anak-anak. Tidak sampai di situ, Arthur harus menerima kenyataan bahwa sang ibu pernah menyiksa dirinya dan bukan anak kandung ibunya, serta presenter yang selama ini dieluk-elukkan mengejek stand up comedy-nya. Momentum ketika dia tahu dia bukanlah anak kandung ibunya, menjadi salah satu faktor mengubah dia menjadi sosok yang jahat.

Film berdurasi 122 menit ini berhasil menghipnotis penontonnya dengan visualisasi dan akting dari para pemain. Akting, sudut pengambilan gambar, serta jalan cerita patut diancungi jempol karena memperlihatkan situasi realistis dibandingkan kebanyakan film lainnya. Emosi yang ditampilkan oleh tokoh Arthur dan tokoh lainnya membuat penulis sedih dan iba dengan perjalanan tokoh Arthur. Visualisasi yang ditampilkan dari segi latar dan tokohnya sendiri sangat menarik, perpindahan kamera dan pembuatan delusi si tokoh Arthur sangat mulus.

Film ini juga mengajak kita untuk melihat dunia dari segi orang-orang mental illness. Tokoh Arthur mengalami Skizofrenia dan Pseudobulbar Affect (PBA). Skizofrenia adalah gangguan mental mengalami delusi, sedangkan Pseudobulbar Affect (PBA) adalah kondisi di mana seseorang tiba-tiba tertawa atau menangis tanpa dipicu oleh sebab apapun. Di sini Arthur mengalami gangguan emosi berupa tertawa yang tidak sesuai dengan keadaan emosinya. Dari penjelasan tersebut, dapat dilihat bahwa script-writer memperlihatkan pada penonton sudut pandang mental illness melihat dunia. Sudut pandang dari mental illness dalam film jauh berbeda dengan sudut pandang orang normal lainnya. Sehingga tidak sedikit orang yang mengalami mental illness saat menonton film yang satu ini jadi ter-trigger karena merasakan hal yang sama.

Isu politik, kemiskinan, dan mental illness menjadi tiga poin penting dalam pengembangan cerita. Sayangnya, karena ketiga isu ini berat serta gore dan kekerasan fisik dalam film, maka hanya orang-orang yang berusia di atas 17 tahun yang bisa menonton film ini. Seperti yang penulis jelaskan di atas, saking realistisnya adegan gore diperlihatkan dengan begitu jelas. Bagi mereka yang tidak menyukai hal-hal yang berbau darah atau jenis gore yang divisualisasikan, disarankan untuk tidak menonton film ini.

Hal lain yang membuat orang bertanya-tanya adalah adegan delusi tokoh Arthur. Beberapa orang kebingungan di bagian tertentu, sehingga perlu penalaran dari orang lain untuk memahami maksudnya. Tidak sedikit bagian-bagian ini menimbulkan presepsi-presepsi yang berbeda bahkan tidak segan-segan mengatakan “Kok gini sih? Kok bisa?”

Totalitas dari Joaquin Phoenix pun perlu diapresiasi karena dia menurunkan berat badannya sampai terlihat kurus seperti digambarkan tentang ciri-ciri tokoh Arthur. Secara keseluruhan film ini direkomendasikan untuk mereka yang menyukai konsep dark, pencinta film garapan DC, atau tertarik dengan isu yang diangkat. Namun, tidak disarankan yang bagi mereka yang tidak menyukai konsep berat serta gore.

penulis: Atria Graceiya

editor: Deni Nugroho

News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *