Hangatnya Waduk Sermo Kulon Progo
Bagikan ke

Waduk Sermo merupakan waduk yang luas area permukaannya mencapai 1,52 km persegi dengan daerah pengumpulan air seluas 22 km persegi. Waduk ini berfungsi sebagai penyedia air minum, pengairan sawah sekaligus jadi tempat wisata. Siapa sangka Waduk ini adalah lokasi syuting Film Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, sehingga sekarang menjadi salah satu objek wisata kulonprogo.

Background hamparan rumput dan pepohonan hijau pun sangat bermanfaat bagi tubuh, misalnya membawa harmoni, keseimbangan emosi, penyegaran mata dan pikiran, dan banyak sekali manfaat positif lainnya. Agar bisa menikmatinya, kita perlu mengeluarkan uang sebesar Rp10.000/orang dan pengunjung pun bebas mulai dari anak-anak, para jomblo, berpasangan ataupun yang sudah berkeluarga sangat cocok untuk menghabiskan malam mingguan di tempat ini.

Setelah menyaksikan Film Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, saya menjadi penasaran dengan bendungan irigasi yang membendung kali Ngrancah sejak 20 November 1996 dan diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto dengan biaya pembangunan sebesar Rp22 miliar.

Tanpa berbasa-basi lagi sebelum sebuah wacana ini menjadi basi. Saya mengjak kerabat satu pondokan saat KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Gunungkidul, yakni Daniel dan Adit yang berasal dari Palembang, dan Lintang dari Solo. Kami berempat berunding dan memutuskan untuk berkemah/ngecamp di Waduk Sermo Kulonprogo.

Singkat cerita, kami dari kota Jogja menuju Kulonprogo dengan sepeda motor pukul 15:30 WIB, perjalanan kami sempat tersendat macet di Jl. Wates Km 7. Sehingga banyak waktu kami yang terbuang sia-sia. Alasan kami berangkat sore hari adalah untuk menikmati sunset di sisi bukit Waduk Sermo.

Namun semesta berkata lain, setibanya kami di Waduk Sermo pukul 17:45 WIB yang mana matahari sudah bersembunyi di balik bukit-bukit mungil itu dan yang terlihat hanyalah cahaya oranye tipis yang bisa kami nikmati saat itu.

Selepas fana merah jambu tenggelam, kami pun bergegas merakit dan mendirikan tenda. Hingga malam pun tiba serentak dengan bunyi perut Daniel yang sudah keroncongan. Saya langsung menyiapkan perlengkapan masak seperti nesting dan kompor lapangan untuk membuat mie instan rasa soto.

Setelah kami menyantap mie instan, Adit mengeluarkan gitar custom miliknya dan menghibur kami, lagu yang dibawakan saat itu sangat pas dengan suasana kami yakni Peterpan – Aku dan Bintang. Kami serentak menyanyikan lagu tersebut.

“Dan rasakan semua bintang

Memanggil tawamu terbang ke atas

Tinggalkan semua, hanya kita dan bintang”

Suasana yang tenang, nyaman dan sejuk seperti ini yang kami butuhkan, saya menikmati setiap detik, menit  dan jam bersama di bawah bintang-bintang yang gemerlap.

Hari telah berganti tepat pukul 00:00 WIB, kami pun berhenti bernyanyi karena tidak enak dengan orang-orang disekeliling yang hendak ingin beristirahat.

Kami tidak merasa ngantuk dan bingung hendak berbuat apa?, tiba-tiba Lintang mengatakan “Gaes, aku ada bawa UNO card ni main yuk”, tapi saat itu kami tidak bisa memainkan UNO card tersebut dikarenakan tenda kami gelap dan lupa membawa senter.

Beberapa menit kemudian Daniel berkata “Gimana kalau kita main LUDO aja”. Ide yang brilian, Daniel langsung mengunduh game tersebut digawai miliknya dan kami langsung bermain berempat, hingga pemenangnya adalah saya dan yang kalah adalah Daniel.

Waktu selalu berputar sampai pukul 02:45 WIB satu persatu dari kami merasa ngantuk. Kami berhenti bermain dan menata sleeping back agar dijadikan bantal tidur. Kami harus segera tertidur agar besok pagi dapat menyaksikan sunrise yang terbit dari arah timur Waduk Sermo.

Pukul 05:20 WIB saya terbangun kedinginan, tenda kami berembun. Saya masih ingin tidur, mata ini seketika tertutup dan tiba-tiba ada teriakan yang lantang tepat di depan tenda kami “Sempurnaaaaaaaaa!!!” saya pun refleks terbangun dan membuka tenda.

Seketika mata yang tadinya tertutup, kini terbuka lebar melihat Golden Sunrise yang mulai terbentang dari ufuk timur. Daniel, Adit dan Lintang yang sedang berbaring pun ikut menyaksikan detik-detik fajar itu terbit.

Matahari semakin tinggi pukul 06:30 WIB, saya lekas membuat kopi, memanggang roti dan memasak telur ceplok. Pagi yang sangat bergizi, kami duduk memandang matahari pagi sambil menikmati roti berisi telur ceplok. Sungguh, lezat parahh!!!

Perut kami sudah terisi, juga sudah menikmati sunrise. Setelah itu kami merapikan barang-barang bawaan, membongkar tenda dan siap untuk meninggalkan waduk istimewa ini dan kembali ke Jogja.

Perjalanan pulang kami sangat lancar dan tidak ada halangan macet atapun cuaca hujan, hingga kami tiba di kos masing-masing dengan selamat tanpa ada kekurangan. Terima kasih Semesta

– Hidup tanpa sebuah proses adalah sesuatu hal yang hampa

News Reporter
Suka Memotret

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *