Tenun Identitas Perempuan Adonara
Bagikan ke

Tenun atau menenun tidak sekedar proses untuk menghasilkan lembaran kain yang difungsikan untuk menutup tubuh dan alat tukar, tetapi jauh melampaui itu kain tenun Adonara merupakan simbol perjuangan dan perlawanan untuk mempertahankan identitas.

Masyarakat Adonara, Flores Timur, NTT menamai kain tenun tersebut ‘Kewatek’ (yang dikenakan perempuan) dan ‘Nowing’ (dikenakan pria).

Menenun selalu identik dengan perempuan. Konon, seorang perempuan yang tidak bisa menenun dipandang ‘bukan perempuan’, bahkan bisa kehilangan pesona di hadapan kaum pria.

Pada umumnya kegiatan menenun 95% didominasi oleh Ibu-Ibu diatas 30 tahun. Perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesatlah yang membuat kaum hawa muda, susah sekali menyentuh/ menenun. Faktor tersebut akan merambat dari tahun ke tahun dan akan memicu terjadinya kepunahan.

Kegiatan menenun juga merupakan bentuk perlawanan kaum perempuan Adonara terhadap dominasi patriarki. Dimana perempuan senantiasa dipojokkan, dianaktirikan bahkan diinjak-injak harkat dan martabatnya hanya karena imagologi konyol yang menegaskan bahwa perempuan itu lemah.

Ada idealisme tentang kesetaraan harkat dan martabat manusia yang diperjuangkan Ratu Dona Maria. Bahwa melalui tenun dan menenun, perempuan dapat terlibat dan melibatkan dirinya di tengah realitas sosial sebagai aktor perubahan, agen pembangunan.

News Reporter
Suka Memotret

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *